Senin, 24 Agustus 2009

2nd DAYS : Ga Banyak Yang Berubah

Tidur lagi setelah sholat shubuh ternyata emang enak, sebelum akhirnya 2 brothaku bereksperimen alat perkusi indie mereka. Mungkin maksud mereka mau meniru aksi para pemain perkusi tetapi yang terjadi adalah bunyi perkakas dapur yang dijatuhkan dari tangga lantai 12. berisik punya. Saat sore tiba aku sedikit bingung, coz hari ini ada dua jadwal yang harus aku penuhi, pertama kumpul2 bareng teman2 teater kampusku di delta maron, dan yang berikutnya ngetik di markas sahabat PMII, kalau aku lagi di genteng sih ga masalah, tetapi hari ini aku sedang berada di rumah, dari sisni kesana berjarak 15 km belum lagi ga ada sepeda di sini. Maghrib hamper dating, mas zen datang ke rumah ngajak maen ke rumah mas ulin, si beruang madu. Di sana ternyata kita diajak sharing sama anak2 SMA yang mo bikin film. Untung aku pernah ikutan LA LIGHTS Indie movie jadi bisa bagi2 ilmu biar meski ga banyak2. di rumah honey bear sampe isya’ hingga aku ga kebagian jamaah di masjid(sampe ini ku tulis, di genteng). Pas mau pulang teman2ku ternyata ada yang datang, terpaksa harus pulang lebih lamaan lagi. Setelah babibu sana sini akhirnya aku pulang juga , tapi ga ke rumahku melainkan langsung ke Base Camp PC IPNU yang ada di Genteng. Sampe di genteng kita maunya online dari kampus Ibrahimy. Pertama ga connect saat aku nyoba di dalam mushola(gara2 lom tarawih kali ya..). ternyata saat pindah ke taman wuih cepat banget…..

# 1st day : Belon Ada Yang Special

Namanya juga puasa, perut lapar dan tubuh lemas sudah menjadi agenda tetap. Memang ga ada doping sama sekali mulai pagi hingga maghrib tiba. Terlebih tadi malan kita sahurnya terlalu kurang malam, alias masih sekitar pukul 21.00 wib. Itu aja harus didahului dengan upacara ngaben, tapi bukan mayat seseorang yang kita bakar melainkan seekor ayam berbulu putih mulus, persis orang lagi melakukan upacara memanggil roh- seperti di film2. terlalu semangat membakar samapi lupa deadline, hasilnya ayam yang tadinya mulus kini seperti korban tragedi bom bali 1, 2 sertta JW Marriot. Pokoknya korban bom. Hangus tak teridentifikasi 16:41 1/9/1430

Sabtu, 13 Juni 2009

इवार-iwir

1st floor TEC agak sepi, tapi kali ini bukan keramaian yang aku cari. PC monitor LCd di depanku itu menghubunhkan aku dengan dia, mereka dan juga sesuatu itu. Siang itu aku nge-dial-kan permintaan dia. Maunya juga mencoba Suramadu dan juga menonton lagi pementasan pamungkas kiaikanjeng. Tapi aku harus sudah berada di rumah rabu malam. Tapi ga papalah. Gubeng sore itu ramai denagn kedatangan persib mania, aku harus berjubel. Ngantri tiket kelas Volks. Tiket sudah aku dpatkan. Cewek di sebelahku itu sangat ……..[wahhhhhh], pasti dia juga menunggu kereta yang sama denganku. Posturtnya lebih tinggi dari cewek kebanyakan. Sepertinya dia atlit. Kemudian, akhghhg………………….!!!!!!!! Nggak usah diterusin ceritanya aku bisa2 kamu TERTAWAIN

pedalaman

Semula kau berpikir tempat ini mudah dijangkau kendaraan umum, ternya cukup sulut. Untung acara ini sangat terjangkau. Lokasinya bertempat di sebuah daerah yang terletak di tengah tebun kebu. Aku lupa nam desanya tapi nama kecamatan daerah ini adalah Sumobito. Tuhan maha pemurah, atas bantuan manusia setengah superman[cak Fahim] aku dikenalkan sama orang surabaya yang juga anggota JM, namanya mas agung[semoga nglabeti jadi ageng dan agung]. Rencana disusun matang, sebelum ke Balai Pemuda aku akan nebeng di rumah mas agung. Sambil memikirkan strategi agar aku nanti nggak repot dan nggak ngrepoti[nemen2] aku menyantap makan malam di rumah budayawan MH Ainun Najib, wah……. Ini termasuk my 1st xperien. Pagi hari aku tiba di surabaya, muter2 dari markas satu ke yang lain. Ukghhh… capek tapi asyik. Pokoknya entah skenario apa ini yang jelas aku banyak belajar banyak mengenai banayak hal. Mereka adalah orang2 hebat, team work yang tangguh, yang di depan maupun yang di belakan g panggung semua total. Kok bisa…… aku juga harus bisa. Presiden Balkadaba berlangsung, iringan gamelan Kiaikanjeng mengalun. Ruangan bergaya kolonial itu penuh sesak. Sungguh eman jika ada orang Surabaya nggak mau mengikuti pagelaran semaca ini, banyak pilihan acara yang bisa dipilih. Toh, bukan di Balai Pemuda saja pementasan semacam itu dilangsungjkan. Memang benar jika kata Azrul Ananda seharusnya bukan *Sparkling Surabaya* tetapi *Smiling Surabaya.* , tau kenapa…?..... tebak saja sendiri….